HUT IKLAS Ke-36 Tahun Rayakan Ibadah Syukuran Di Pantai Sinar Numfor

Jerat Fakta | Sorong, -Ratusan warga Maluku yang berasal dari kampung Titawai, Pelauw dan Ambalauw merayakan HUT IKLAS yang Ke-36 Tahun dengan dilaksanakan ibadah syukuran dan berbagai kegiatan perlombaan hiburan di pantai Sinar Numfor termasuk hadir juga putra terbaik Lesinusa Amalatu Sorong, David Hehanusa yang baru terpilih sebagai Bakal Calon anggota DPRD Kota Sorong periode 2024-2029, serta para sesepuh IKLAS, bapak Onny Lebelauw (mantan Wakapolres Sorong di era tahun 90-an dan para sesepuh lainnya.

Sambutan Ketua IKLAS yang diwakili oleh Wakil Ketua IKLAS, Dany Wattimena mengatakan, di usia 36 tahun Ikatan Keluarga Lesinusa Amalatu Sorong (IKLAS) tahun 2024 ini adalah usia yang beranjak dewasa ditanah perantauan.

Dikatakan Dany Wattimena bahwa perayaan HUT IKLAS Ke-36 Tahun 2024 ini berdasarkan hasil rapat panitia badan pengurus dirayakan di pantai Sinar Numfor dengan mengundang Gandong Matasiri Pelauw dan adik Ambalauw secara bersama-sama merayakan HUT IKLAS demi mempererat tali persaudaraan yang terus baik dan rukun satu sama lain.

” 3 Kampung, yaitu, Titawai, Pelauw dan Ambalauw ini merupakan suatu yang tidak terpisahkan satu sama yang lain. Potong di kuku, rasa di daging. Satu susah, mari katong sama-sama merasakan. Walaupun di Dunia politik kita berbeda tetapi, ditempat ini Beta ingatkan untuk katong semua bahwa perbedaan tidak memisahkan kita yang berada di 3 kampung ini, karena katong semua ini adalah 1. Jadi mungkin beta mau sampaikan kepada basudara yang dari Titawai bahwa ingat di tanah ini katong hidup berdampingan bersama katong punya saudara dari Pelauw, Ambalauw dan saudara kita Moi dalam kebersamaan yang saat ini berusia 36 tahun terus ditingkatkan hubungan kekeluargaan yang lebih harmoni lagi, yang mungkin saat ini saudara kita dari Titawai belum mengenal saudara kita dari Pelauw dan Ambalauw atau sebaliknya, mulai saat bisa saling kenal satu sama lain ditanah perantauan ini, sehingga kedepannya bisa membantu program pemerintah daerah lebih maju lagi, ” tutur Dany Wattimena yang kesehariannya berprofesi sebagai pengacara senior di kota Sorong.

Ketua Ikatan Keluarga Matasiri Pelauw, Iman Latuconsina, menyampaikan, selama hidup di perantauan selama 36 tahun saat ini banyak kejadian kriminal yang terus terjadi di Sorong, mungkin ada saudara dari 3 kampung ini yang mengalami musibah, jadi ada istilah yang biasa didengungkan itu potong di kuku rasa di daging itu menurut saya yang paling pas adalah satu kena musibah semua kena, artinya satu merasakan sakit, semua merasakan sakit juga.

” Jadi, kedepannya harapan dari saya, saya tidak bermaksud menghasut, tetapi, bila ada terjadi sesuatu, dan demi menjalin hubungan kekeluargaan Gandong yang lebih baik lagi dan tanggungjawab kita itu ibaratkan “Satu merasakan semua merasakan”. Mengingat asal usul sejarah negeri (kampung) baik Matasiri atau Lesinusa ini, saya rasa semua basudara sudah memahaminya sehingga saya tidak perlu lagi untuk jelaskan soal sejarahnya, intinya kehidupan sosial kemasyarakatan di perantauan yang terpenting adalah kita harus bersatu, karena dengan bersatu kita kuat, ” tutur Iman Latuconsina.

Iman Latuconsina menambahkan sekaligus mengingatkan lagi bahwa antara Matasiri Pelauw dan Titawai Lesinusa itu bukan disebut sebagai Pela Gandong pada umumnya tetapi Gandong. Sebab kalau definisi Pela dan Gandong itu berbeda.

” Jadi kalau Gandong itu artinya adik kakak kandung satu darah, sedangkan kalau sebutan Pela itu adalah hubungan kekeluargaan atau persahabatan yang sudah terjalin hubungan baik sehingga pada momen ini saya perlu lagi untuk ingatkan kita semua, agar kedepannya hubungan saudara kita lebih ditingkatkan lagi, “tambah Iman Latuconsina lagi.

Dari pantauan media ini di lokasi pantai Sinar Numfor setelah ibadah syukuran yang di pimpin oleh Pdt.Hukom selesai. Panitia menggelar acara penyambutan saudara Pelauw dan Ambalauw dengan Tari-tarian Lenso mulai dari pintu masuk pantai sampai masuk ke lokasi pantai Sinar Numfor disambut meriah oleh ratusan warga mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, kemudian dilakukan nyanyian pembakaran lilin dan pemotongan kue ulang tahun dan dilanjutkan dengan perlombaan makan Papeda, lomba lari karung dan dihibur oleh suara emas talenta Lesinusa dan tarian Temporer dari Matasiri Pelauw. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *