Pengalungan Kopi dan Gorengan, Simbol Perjuangan Mahasiswa Hingga Raih Gelar Sarjana

Jerat FaktaManokwari | Sebuah momen unik dan penuh makna mewarnai prosesi wisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Manokwari. Pengalungan kopi dan gorengan menjadi simbol sederhana namun sarat arti dari perjuangan hidup seorang mahasiswa dalam menempuh pendidikan tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Riko Rikson I Iba yang resmi menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H) setelah menempuh studi sejak tahun 2020 hingga 2026.

“Pengalungan kopi dan gorengan ini adalah simbol kehidupan kami selama kuliah. Itu yang kami konsumsi sehari-hari untuk bertahan hidup,” ujarnya kepada media, Selasa malam (31/03/2026).

Riko menceritakan, perjalanan studinya tidaklah mudah. Ia berasal dari keluarga sederhana dengan enam bersaudara, di mana orang tuanya hanya mengandalkan hasil berkebun dan penjualan minyak buah merah untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Meski dengan keterbatasan ekonomi, semangat untuk meraih pendidikan tidak pernah surut. Dari enam bersaudara, tiga orang telah berhasil meraih gelar sarjana, satu orang magister, sementara dua lainnya masih menempuh pendidikan.

Perjalanan pendidikan Riko dimulai dari SD Inpres 67 Meidodga (2007), kemudian melanjutkan ke SMP Persiapan Testega, SMA Negeri 1 Prafi, hingga sempat kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Papua (2015–2017) sebelum terhenti karena sakit. Ia kemudian bangkit dan melanjutkan pendidikan di STIH Manokwari pada tahun 2020.

Selain aktif dalam akademik, Riko juga terlibat dalam organisasi kemahasiswaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manokwari. Berkat dedikasi dan kemampuannya, ia dipercaya menjadi ketua sejak tahun 2022.

Dalam perjalanannya, Riko mengaku harus membagi waktu antara tanggung jawab organisasi dan studi. Bahkan, ia mengungkapkan telah bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halaman demi menjalankan tanggung jawab tersebut.

“Keseharian kami hanya membaca buku dan berkumpul bersama teman-teman. Makanan kami sederhana, hanya gorengan dan kopi, kadang satu pisang dibagi bertiga atau berempat. Tapi kami nikmati bersama,” tuturnya.

Menurutnya, pendidikan formal saja tidak cukup. Ia mendorong generasi muda untuk aktif dalam organisasi guna membentuk karakter, kepemimpinan, dan kualitas diri.

“Pendidikan formal membentuk intelektual, tetapi organisasi membentuk karakter dan mental kita,” tambahnya.

Ia berharap kisah perjuangannya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk tidak menyerah dalam menghadapi keterbatasan, serta berani keluar dari zona nyaman demi meraih cita-cita.

Pengalungan kopi dan gorengan pun menjadi simbol nyata bahwa perjuangan besar sering lahir dari kesederhanaan.

(Udir Saiba)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *