Warga Kampung Suga Keluhkan Pembangunan Sekolah Tanpa Koordinasi Hak Wilayah

Jerat Fakta | Teluk Bintuni, Papua Barat – Sebagai anak asli Teluk Bintuni, Roberto Yassie menyampaikan rasa prihatin terhadap pembangunan SD Inpres Suga yang berada di Kampung Suga, Distrik Kaitaro, Kabupaten Teluk Bintuni. Ia menilai pembangunan sekolah tersebut dilakukan di lokasi yang sempit dan tidak memperhatikan kebutuhan ideal lingkungan pendidikan.

Pantauan media Jerat Fakta di lapangan menunjukkan bahwa bangunan sekolah berdiri di lahan yang terbatas, tanpa ruang yang memadai untuk aktivitas siswa. Kondisi ini dinilai dapat menghambat kenyamanan serta proses belajar mengajar bagi anak-anak di Kampung Suga.

Saat turun langsung ke kampung dan berbincang dengan warga setempat, salah satu pemilik hak wilayah, Kalep Masumbauw, menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara bersama wartawan Jerat Fakta pada Sabtu (10/1/2026).

“Pembangunan sekolah ini tidak pernah dikoordinasikan dengan kami sebagai pemilik hak wilayah. Pemerintah membangun tanpa bertanya lokasi yang layak,” ujar Kalep Masumbauw yang akrab disapa Kuri.

Menurutnya, pembangunan sekolah seharusnya direncanakan secara matang dan melibatkan masyarakat adat setempat. Ia menegaskan bahwa sekolah ideal harus memiliki lahan yang luas agar anak-anak bisa belajar, bermain, dan beristirahat dengan nyaman.

“Sekolah itu seharusnya ada lapangan bola, ruang kelas yang luas, rumah guru, rumah kepala sekolah, serta fasilitas air bersih dan LCK untuk guru. Dengan begitu, lingkungan sekolah akan terlihat baik dan mendukung pendidikan anak-anak kita,” tegasnya.

Roberto Yassie berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Teluk Bintuni dapat segera merespons keluhan warga, melihat langsung kondisi sekolah, serta mengevaluasi kekurangan yang ada. Ia menekankan bahwa pembangunan pendidikan harus berpihak pada kepentingan anak-anak dan menghormati hak masyarakat adat.

“Pendidikan adalah masa depan daerah ini. Pemerintah harus hadir dengan perencanaan yang baik, bukan sekadar membangun tanpa melihat kebutuhan nyata di lapangan,” tutup Roberto Yassie.

(Roberto Yassie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *