Kisah Inspiratif Fitron Yassie, Murid Tekun SD YPPK Santo Michael Riendo yang Jadi Kebanggaan Guru

Jerat Fakta | Bintuni, Papua Barat — Kisah inspiratif datang dari SD YPPK Santo Michael Riendo, Distrik Fafurwar, Kabupaten Teluk Bintuni. Fitron Yassie, putra dari pasangan Hengki Yassie dan Damiana Wersein, menjadi salah satu contoh anak yang menunjukkan perkembangan positif dalam dunia pendidikan meski sempat menghadapi tantangan di awal masa sekolah.

Salah satu guru pengajar, Klarina Okrofa, Amd.S.Pd, menceritakan bahwa saat Fitron masih duduk di kelas 1 SD, ia dikenal sebagai murid yang paling aktif dan sering membuat suasana kelas menjadi ramai.

“Waktu kelas 1 dia paling kacau nomor satu, tapi saya senang karena saat proses belajar mengajar dia paling tekun dan cepat tangkap pelajaran,” ujar Ibu Klarina kepada media, Rabu,  (128/01/2026).

Menurutnya, Fitron juga dikenal sebagai murid yang disiplin. Ia jarang absen dari sekolah kecuali dalam kondisi sakit atau jika orang tua datang langsung meminta izin kepada pihak sekolah.

“Dia tidak pernah alpa, kecuali sakit atau orang tuanya datang minta izin. Dia juga paling dekat dengan guru,” tambahnya.

Ibu Klarina yang merupakan guru senior di SD YPPK Santo Michael Riendo juga membagikan pengalaman saat mengajar di Kampung Riendo.

Ia mengisahkan pernah ada tenaga pengajar non-Orang Asli Papua (Non-OAP) yang merasa kesulitan menghadapi karakter anak-anak di sekolah tersebut.

Guru non-OAP tersebut sempat menyampaikan bahwa dirinya merupakan lulusan sarjana pendidikan (S.Pd), namun hanya mampu bertahan mengajar selama satu bulan karena merasa kewalahan menghadapi karakter murid-murid yang aktif.

“Ia bilang anak-anak terlalu bawel dan merasa tidak mampu mengajar di sini,” tutur Klarina.

Menanggapi hal itu, para guru honorer Orang Asli Papua (OAP) dari Distrik Fafurwar menyampaikan bahwa mengajar anak-anak Papua membutuhkan kesabaran, ketulusan hati, serta pendekatan yang penuh kasih.

“Biarpun kau sarjana S1, S2, S3, tapi kalau tidak punya hati untuk mengajar anak-anak asli Papua, pasti akan pusing. Ini bukan hanya terjadi di Riendo, tapi juga di sekolah lain di Distrik Fafurwar,” ujar salah satu guru OAP.

Kisah ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan di Papua Barat bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai dari ketulusan para pendidik dalam membimbing generasi penerus.

Para guru berharap semangat pengabdian terus tumbuh agar anak-anak Papua dapat tumbuh menjadi generasi cerdas, mandiri, dan berdaya saing.

“Pendidikan adalah senjata untuk mengubah dunia. Papua maju jika SDM Papua kuat dan sejahtera,” tegas Klarina.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah dunia telah membuktikan kekuatan pendidikan, seperti yang terjadi di Jepang pasca Perang Dunia II, di mana kebangkitan bangsa dimulai dari membangun kembali sektor pendidikan.

Kisah Fitron Yassie menjadi bukti bahwa dengan bimbingan guru yang tulus serta dukungan orang tua, anak-anak Papua memiliki potensi besar untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.

(Roberto Yassie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *